Powered by Blogger.

Popular Posts Today

Album Kelima Andra and The Backbone Lebih "Ngepop"

Written By Luthfie fadhillah on Monday, July 29, 2013 | 6:58 PM


Jakarta - Setelah menghadirkan single "Lebih Dari Sempurna" yang sudah dapat didengarkan di radio-radio lokal seluruh Indonesia, Andra and The Backbone resmi merilis album kelima mereka yang bertajuk "Victory". Ini adalah album pertama band yang digawangi oleh Andra Ramadan, Dedy Lisan dan Stevie Item setelah pindah label dari GP Records ke Universal Music Indonesia.


"Pastinya sangat exited seperti kayak pindah rumah baru. Kita juga tahu artis-artis yang bernaung di label Universal Music Indonesia sangat luar biasa, jadi kita ikut bangga berada di sini," kata Andra Ramadan saat ditemui di peluncuran album "Victory" di Jakarta, Senin (29/7) petang.


Total ada 10 lagu di album terbarunya ini. 5 lagu baru yakni Victory, Lebih dari Siapapun, Hidup Ini, Hikayat Cinta, dan Takluk. Sementara 5 lagu lainnya sudah pernah dibawakan Andra and The Backbone dan sempat menjadi hits, seperti Musnah, Main Hati, Hitamku, Tak Ada Yang Bisa, dan Sempurna. 5 lagu lama ini ditampilkan dalam versi asli.


"Dalam penggarapannya, album ini sebetulnya lebih minimalis, tidak mengumbar distorsi gitar seperti yang biasa kita pakai di album-album sebelumnya. Aransement-nya juga minimalis banget dan lebih ngepop," akunya.


Lagu "Victory" dalam album ini juga menggunakan bahasa Inggris, sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh band yang pertamakali merilis album tahun 2007 ini. "Lagu ini juga secara khusus digunakan oleh RCTI dalam tayangannya menyambut kedatangan tim sepak bola Arsenal pertengahan Juli 2013 lalu," tambah Andra.


Untuk album "Victory", Universal Music Indonesia bekerjasama dengan gerai makanan Texas Chicken sebagai tempat pendistribusian album. Kerjasama ini sebelumnya pernah dilakukan oleh musisi satu labelnya yakni ADA Band, dan akan diikuti dengan serangkaian acara seperti Album Launch, Meet & Great with Fans, dan Gathering di gerai-gerai Texas Chicken tersebut.


6:58 PM | 0 comments | Read More

Voli Putra, Minimal Masuk Final!

SENTUL, KOMPAS.com – Tim nasional bola voli putra Indonesia mematok target minimal lolos ke final pada pesta olahraga se-Asia Tenggara, SEA Games di Myanmar, Desember mendatang. 17 pemain sudah menghuni pelatnas sejak Juni.

Pelatih timnas, Ibarsjah Djanu Tjahjono menjelaskan bahwa memasuki bulan kedua persiapan pelatnas, secara keseluruhan program latihan baru berjalan 70 persen. Untuk teknik 70 persen, fisik 75 persen, dan taktik 80 persen. Persiapan mental para pemain dilakukan dengan mengikuti beberapa kejuaraan.

Timnas turun pada kualifikasi Kejuaraan Dunia zona Asia Tenggara, di Thailand, Juni lalu. Mereka menang 3-2 atas Myanmar, menang 3-0 atas Vietnam, dan kalah 0-3 dari Tailand. Dengan hasil tersebut timnas lolos ke kualifikasi putaran kedua yang akan dilaksanakan September mendatang.  

“Laga di Thailand sebagai persiapan para pemain untuk menunjukkan mental bertanding mereka. Selain itu, dari ajang ini bisa dilihat siapa pemain yang akan bertahan,” ujar Ibarsjah.

Untuk SEA Games, Thailand saat ini merupakan calon lawan terkuat, “Lima tahun ini Thailand masih yang terkuat di Asia Tenggara. Tim mereka sudah terbentuk. Indonesia kan baru tahun ini regenerenasi. Minimal, nanti menjadi finalis, mempertahankan hasil SEA Games 2011 lalu”, kata Ibarsjah, usai latihan pagi di Padepokan Voli, Sentul, Bogor, Senin (29/7/2013) Target berat ini tak jadi beban para pemain. Bagi mereka ini adalah motivasi tambahan untuk bisa meraih hasil bagus di Myanmar nanti.

“Kami di sini yakin 100 persen dan tidak setengah hati. Kami di sini memang berjuang untuk bisa masuk final. Buat apa kami berlatih keras kalau bukan untuk meraih medali emas,” kata Bagus Wahyu Ardyanto, salah satu pemain senior.


“Tahun ini juga berbeda dengan kemarin (SEA Games 2011). Sekarang ini banyak pemain muda. Semangat pemain muda lebih bagus, semangat baru untuk timnas,” tandas Bagus. (Idris)


6:30 PM | 0 comments | Read More

Soal Chef Priscilya, Ramadhan Pohan Minta KPI Tegur Trans TV


Jakarta - Wakil Ketua Komisi I DPR, Ramadhan Pohan, menyatakan keprihatinannya dan rasa protes atas tayangan "Ala Chef" di Trans TV. Sebab, menurut Ramadhan, Chef Priscilya Princessa berbusana terlalu vulgar dan seronok dalam tayangan acara itu pada Minggu, 28 Juli 2013 lalu.


Acara itu disiarkan jam 09.40-10.30 WIB, dan tepat saat momen Bulan Suci Ramadan.


"Program ini beberapa kali menyorot belahan payudara chef yang memakai pakaian terbuka di bagian dadanya," kata Ramadhan di Jakarta, Senin (29/7).


Menurutnya, hal itu jelas melanggar standar program siaran KPI yang secara tegas melarang eksploitasi bagian-bagian tubuh yang tak pantas, termasuk payudara, baik secara close up dan medium close up.


"Makanya, KPI harus cepat bertindak," tegas Ramadhan.


Politisi Partai Demokrat itu melanjutkan bahwa tindakan KPI diperlukan terlebih karena klasifikasi tontonan itu adalah Remaja+ Bimbingan Orang Tua, yang sudah jelas melanggar dan tidak pantas ditonton remaja.


"KPI harus memberikan sanksi yang sangat tegas terhadap Trans TV agar tindakan penayangan semacam ini tidak terulang kembali. Khususnya di bulan puasa tampilan tak senonoh ini sangat tidak etis," tukasnya.


"Jika membandal, siaran Ala Chef ini di-stop saja."


Berdasarkan SPS KPI 2012 Pasal 18 huruf h, menyatakan program siaran dilarang mengeksploitasi dan atau menampilkan bagian-bagian tubuh tertentu, seperti: paha, bokong, payudara, secara close up dan/atau medium shot.


6:23 PM | 0 comments | Read More

KH Diduga Meniru Adegan Seksual Disertai Kekerasan





JAKARTA, KOMPAS.com - Terungkapnya pelaku perkosaan, perampokan, dan pembunuhan berencana yang dilakukan remaja berusia 16 tahun, KH, mengejutkan psikolog Lia Sutisna Latief dan Kepala Bagian Psikolog Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Nur Cahyo.


Lia mengatakan, tindakan memerkosa, merampok, dan membunuh korban tidak biasa dilakukan oleh remaja berusia kurang dari 20 tahun seperti KH. "Sebelum tahun 2010-an, remaja di bawah 18 tahun belum mampu melakukan kejahatan berat ganda. Tetapi mungkin karena mudahnya mendapat informasi di abad informasi ini, remaja semakin dini meniru kejahatan orang dewasa," kata Lia.


Ia mengatakan, pada usia tersebut, keinginan untuk memeroleh "kemenangan" dengan cara meraih aset, seperti uang, motor, mobil, meluap-luap. Bersamaan dengan itu, dorongan seksual pun menguat pada usia tadi.


Dalam kasus ini, lanjutnya, si pelaku sudah mulai mengorganisir kejahatan. Tidak lagi spontan karena emosi meski di sisi lain, unsur perencanaan kejahatan yang dilakukan, tergolong masih ceroboh.


"Menurut saya, tindak memerkosa atau mengadakan hubungan intim dengan korban secara sukarela pun dilakukan KH untuk melemahkan bahkan membuat korban tak berdaya. Korban kehilangan atensi dan konsentrasi, bahkan kehilangan kewaspadaan terhadap tindak orang dekat atau orang asing. Momen inilah yang digunakan pelaku," ujarnya.


Dari informasi kasus ini, ia mengaku belum bisa mendalami sosok pelaku. Pendalaman terhadap sikap, motif, dan perilaku tersangka harus dilakukan dengan mengevaluasi masa lalunya. Hal itu berhubungan dengan sikap meniru yang ia lakukan.


"Mungkin sebelum usia 16 tahun ia sudah pernah menyaksikan adegan seksual atau pengalaman-pengalaman seksual disertai dengan adegan-adegan kekerasan," katanya.


Lia berpendapat, yang mengerikan dalam kasus ini adalah bagaimana pelaku mempersiapkan dan memahami kematian seseorang dengan bertubi-tubi melakukan tindak kekerasan.


Nur Cahyo berpendapat, kasus seperti ini bisa terjadi karena seseorang mendapat sasaran. Obyek itu bisa dikuasai atau dianggap lemah untuk melampiaskan kemarahan atau sarana pemuas.


"Itu sebabnya, jenis kejahatan seperti ini sulit dipetakan. Siapa pun bisa menjadi pelaku maupun korban," ucap Nur Cahyo.


Baik Cahyo maupun Lia berpendapat, agar kasus tak terulang, pemerintah dan masyarakat secara bersama mengontrol arus informasi, memberi informasi, rambu-rambu, dan melakukan langkah penyadaran tentang informasi yang bisa berkembang menjadi perilaku meniru. Cahyo mengatakan, lingkungan sekolah, keluarga, dan para pengelola pelayanan publik lain perlu mewaspadai, mengendalikan, mengelola informasi, sistem nilai dan perilaku sosial lewat bermacam kegiatan sosial, keagamaan, dan pendidikan budi pekerti.


KH ditangkap setelah polisi mengungkap korbannya, SW, seorang pelajar berusia 14 tahun. Setelah SW diperkosa dan dibunuh. Telepon genggam dan sepeda motor matik Mio warna putih-merah yang dibawa korban juga diambil tersangka.





Editor : Laksono Hari Wiwoho
















6:03 PM | 0 comments | Read More

Pasha Lega, Ibu Mertua Kecewa


BOGOR, KOMPAS.com — Vokalis grup band Ungu, Sigit Purnomo alias Pasha, menyambut hangat upaya mediasi dengan Okky Agustina yang dilakukan oleh Ketua Majelis Hakim Wedhayati SH dalam persidangan di Pengadilan Negeri Bogor, Jawa Barat, Selasa (5/1/2010).


"Saya juga sebelumnya sudah meminta maaf sama Okky. Alhamdulillah, ternyata sekarang hakim sendiri yang memediasi," ujar Pasha saat ditemui seusai sidang.


Pasha pun mengaku sedikit lega. "Alhamdulillah sekarang sudah saling memaafkan masing-masing. Meski sidang belum tentu selesai," ujarnya.


Sementara itu, Sri Mulyanti, ibunda Okky, justru mengaku kecewa dengan mantan menantunya itu. "Sejak cerai, Pasha mana pernah minta maaf kepada Okky. Bahkan kemarin dia jemput anak-anak, dia cium tangan tapi tidak ada kata-kata meminta maaf kepada saya," imbuh Sri.


Menurut Sri, pelantun "Cinta Gila" itu termasuk pria yang alot untuk mengucapkan kata maaf. "Pasha itu orangnya susah minta maaf. Saya penginnya dia minta maaf dari hatinya sendiri enggak disuruh orang," tandas Sri.


Menurut Sri, pria yang diduga melakukan tindak kekerasan terhadap putrinya itu pernah meminta maaf ketika kepergok berselingkuh. "Dia pernah meminta maaf sama saya, sampai dia cium kaki saya karena dia ketahuan selingkuh dua kali. Pertama dengan pramugari dan yang kedua semuanya sudah tahu kan pas Okky cerai," tegasnya.


Meski begitu, Sri tetap tak menaruh dendam pada pria yang memberikannya tiga orang cucu. "Saya tidak dendam, saya hanya kasihan sama dia karena dia gengsinya tinggi," pungkas Sri. (C7-09)


6:02 PM | 0 comments | Read More

Pengacara: Pasca Pengeroyokan, Nikita Alami Trauma

Written By Luthfie fadhillah on Sunday, July 28, 2013 | 6:58 PM


Jakarta - Kasus Pengeroyokan yang dialami oleh artis Nikita Mirzani membuat trauma mendalam bagi bintang "Nenek Gayung" tersebut. Hal itu diungkapkan oleh pengacara Nikita Mirzani, Fachmi Bachmid saat dihubungi Beritasatu.com lewat sambungan telepon dari Jakarta, Sabtu (27/7) malam.


"Nikita betul-betul trauma dengan kejadian ini, akibat terjadi pendarahan di mukanya," ujar Fachmi.


Lebih lanjut diungkapkan Fahmi, Nikita yang usai pengeroyokan tersebut mengalami memar dan mengeluarkan darah, langsung mendapat perawatan dan pengobatan dari tim dokter di RS Borromeus, Bandung.


"Niki sendiri sudah mendapatkan perawatan di rumah sakit. Selain memeriksa dan mengobati lukanya, Niki juga langsung diperiksa kesehatannya serta mental, karena mengalami trauma," lanjut Fachmi.


Fachmi sendiri telah berkoordinasi dengan Nikita Mirzani untuk meminta pihak kepolisian segera menangkap dan menahan pelaku yang hingga kini masih belum diketahui.


"Penegak hukum harus bertindak cepat dan tegas supaya pelakunya segera ditangkap dan dihukum," tambah Fachmi.


Seperti diberitakan sebelumnya, Nikita Mirzani dikeroyok sejumlah orang di sebuah Kafe di kawasan Dago Atas, Bandung pada Sabtu (27/7) sekitar pukul 02.00 - 03.00 WIB.


Saat itu Nikita tengah bersama teman prianya Onadio Leonardo vokalis Killing Me Inside. Dalam kejadian ini, Nikita mengalami sejumlah luka memar dan pendarahan disekitar wajahnya.


Sampai saat ini, pelaku pengeroyokan itu belum tertangkap meski kasusnya tengah disidik oleh pihak Mapolresta Bandung.


6:58 PM | 0 comments | Read More

20 Seri Lebih dalam Satu Musim? Apa Kata Vettel dan Hamilton?





BUDAPEST, KOMPAS.com - Spekulasi akan bertambahnya seri balapan Formula 1, terus berkembang. Ada kemungkinan balapan musim depan akan bertambah menjadi lebih dari 20 seri dalam satu musim. Negara yang sudah menyatakan kesiapan untuk menggelar Formula 1 musim depan antara lain Rusia dan Austria.

Sudah pasti perubahan ini mendapat reaksi dari para pebalap, karena mereka adalah pelaku utama dari setiap balapan.

"Saya suka membalap, jadi saya bisa membalap setiap akhir pekan jika memang harus. Tapi ini berat bagi mereka yang ada di garasi dan orang-orang yang bekerja di pabrik.

"Saya yakin, kalau saya pergi ke garasi dan bertanya ke tim apakah mereka mau balapan ditambah, mereka akan bilang mau. Tapi mereka akan sangat merindukan keluarga mereka," ucap Lewis Hamilton, pole-sitter GP Hongaria, akhir pekan ini.

Juara dunia tiga kali, Sebastian Vettel, juga mempertimbangkan kondisi kru yang mendukungnya di Red Bull.

"Saya rasa ini cukup. 20 balapan adalah cukup. Untuk kami (pebalap), mungkin saja untuk menambah satu di sini atau di sana. Tapi untuk tim, bagian logistik dan staf, saya rasa effort mereka sudah besar. Sangat sedikit waktu, sangat sedikit akhir pekan untuk dihabisakan di rumah bersama keluarga mereka, bersama anak-anak mereka.

"Saya rasa kamu tidak boleh melupakan itu, dan lagi pula, 20 balapan sudah banyak. Lima atau 10 tahun lalu, hanya ada 16 balapan, jadi ini sudah jauh lebih banyak, dan saya tidak yakin 20 balapan lebih akan bagus buat tim," terang Vettel.

Sejak pertama digelar pada 1950, seri terbanyak dalam satu musim balap Formula 1 adalah 2012, dengan 20 balapan. Musim ini, Formula 1 menggelar 19 seri.




Editor : Pipit Puspita Rini

















6:30 PM | 0 comments | Read More

Pengacara: Pasca Pengeroyokan, Nikita Alami Trauma


Jakarta - Kasus Pengeroyokan yang dialami oleh artis Nikita Mirzani membuat trauma mendalam bagi bintang "Nenek Gayung" tersebut. Hal itu diungkapkan oleh pengacara Nikita Mirzani, Fachmi Bachmid saat dihubungi Beritasatu.com lewat sambungan telepon dari Jakarta, Sabtu (27/7) malam.


"Nikita betul-betul trauma dengan kejadian ini, akibat terjadi pendarahan di mukanya," ujar Fachmi.


Lebih lanjut diungkapkan Fahmi, Nikita yang usai pengeroyokan tersebut mengalami memar dan mengeluarkan darah, langsung mendapat perawatan dan pengobatan dari tim dokter di RS Borromeus, Bandung.


"Niki sendiri sudah mendapatkan perawatan di rumah sakit. Selain memeriksa dan mengobati lukanya, Niki juga langsung diperiksa kesehatannya serta mental, karena mengalami trauma," lanjut Fachmi.


Fachmi sendiri telah berkoordinasi dengan Nikita Mirzani untuk meminta pihak kepolisian segera menangkap dan menahan pelaku yang hingga kini masih belum diketahui.


"Penegak hukum harus bertindak cepat dan tegas supaya pelakunya segera ditangkap dan dihukum," tambah Fachmi.


Seperti diberitakan sebelumnya, Nikita Mirzani dikeroyok sejumlah orang di sebuah Kafe di kawasan Dago Atas, Bandung pada Sabtu (27/7) sekitar pukul 02.00 - 03.00 WIB.


Saat itu Nikita tengah bersama teman prianya Onadio Leonardo vokalis Killing Me Inside. Dalam kejadian ini, Nikita mengalami sejumlah luka memar dan pendarahan disekitar wajahnya.


Sampai saat ini, pelaku pengeroyokan itu belum tertangkap meski kasusnya tengah disidik oleh pihak Mapolresta Bandung.


6:23 PM | 0 comments | Read More

Asosiasi PKL Minta Perda Ketertiban Umum Direvisi






JAKARTA, KOMPAS.com
- Asosiasi Pedagang Kaki Lima (APKLI) meminta Peraturan Daerah (Perda) DKI nomor 7 tahun 2008 tentang Ketertiban Umum direvisi. Menurut Ketua APKLI Hoiza Siregar, Perda tersebut menzalimi PKL. Dalam penyusunannya, Perda tidak melibatkan unsur PKL, yang merupakan salah satu unsur berkepentingan dalam ketertiban umum.


"Perda itu masalahnya yang usul siapa yang buat siapa? Satpol PP. Kami tidak diajak. Saya tahu tentang Perda itu tapi tidak diajak, tahu-tahu disahkan," kata Hoiza saat dihubungi Kompas.com, Minggu (28/7/2013).


"Kalau tidak mengakomodir kepentingan ya diubah," lanjut dia.


Menurut Hoiza, jika DPRD sadar akan kesalahannya tidak melibatkan pihak berkepentingan ini, Perda nomor 7 tahun 2008 seharusnya diubah.


Terkait penertiban PKL, ia juga merasa prihatin pemerintah tidak memperhatikan kepentingan rakyat kecil. Kekecewaannya bertambah ketika asosiasi mendesak pembentukan panitia khusus (pansus) dalam penertiban PKL, rencana tersebut tidak mendapat dukungan DPRD DKI, salah satunya dari Wakil Ketua DPRD DKI, Triwisaksana. "Buktinya apa kalau bukan proyek besar mana mau dia (DPRD) peduli. MRT itu besar makanya ada pansusnya. Kalau PKL ini kecil, tidak ada duitnya makanya enggak perlu dibikin pansus," ujar Hoiza.





Editor : Ana Shofiana Syatiri


















6:03 PM | 0 comments | Read More

Pasha Lega, Ibu Mertua Kecewa


BOGOR, KOMPAS.com — Vokalis grup band Ungu, Sigit Purnomo alias Pasha, menyambut hangat upaya mediasi dengan Okky Agustina yang dilakukan oleh Ketua Majelis Hakim Wedhayati SH dalam persidangan di Pengadilan Negeri Bogor, Jawa Barat, Selasa (5/1/2010).


"Saya juga sebelumnya sudah meminta maaf sama Okky. Alhamdulillah, ternyata sekarang hakim sendiri yang memediasi," ujar Pasha saat ditemui seusai sidang.


Pasha pun mengaku sedikit lega. "Alhamdulillah sekarang sudah saling memaafkan masing-masing. Meski sidang belum tentu selesai," ujarnya.


Sementara itu, Sri Mulyanti, ibunda Okky, justru mengaku kecewa dengan mantan menantunya itu. "Sejak cerai, Pasha mana pernah minta maaf kepada Okky. Bahkan kemarin dia jemput anak-anak, dia cium tangan tapi tidak ada kata-kata meminta maaf kepada saya," imbuh Sri.


Menurut Sri, pelantun "Cinta Gila" itu termasuk pria yang alot untuk mengucapkan kata maaf. "Pasha itu orangnya susah minta maaf. Saya penginnya dia minta maaf dari hatinya sendiri enggak disuruh orang," tandas Sri.


Menurut Sri, pria yang diduga melakukan tindak kekerasan terhadap putrinya itu pernah meminta maaf ketika kepergok berselingkuh. "Dia pernah meminta maaf sama saya, sampai dia cium kaki saya karena dia ketahuan selingkuh dua kali. Pertama dengan pramugari dan yang kedua semuanya sudah tahu kan pas Okky cerai," tegasnya.


Meski begitu, Sri tetap tak menaruh dendam pada pria yang memberikannya tiga orang cucu. "Saya tidak dendam, saya hanya kasihan sama dia karena dia gengsinya tinggi," pungkas Sri. (C7-09)


6:03 PM | 0 comments | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger