Powered by Blogger.

Popular Posts Today

Charlize Theron dan Sean Penn Dikabarkan Resmi Bertunangan

Written By Luthfie fadhillah on Thursday, January 1, 2015 | 6:58 PM


Sejumlah media di Amerika Serikat melaporkan, aktor Sean Penn baru-baru ini dikabarkan telah mengajukan lamaran untuk bertunangan kepada kekasihnya, aktris cantik asal Afrika Selatan, Charlize Theron, di kota Paris, Perancis.


Mengutip sumber yang dekat dengan pasangan itu, laman Us Weekly menyebutkan, bintang "Walking Dead Man" itu memutuskan meningkatkan hubungan mereka ke tahap berikutnya saat liburan mereka pada bulan November kemarin.


Sean Penn, 54, dan Charlize Theron, 39, diketahui pertama kali mulai muncul secara bersama-sama sebagai pasangan pada bulan Desember 2013.


Penn sendiri telah menikah dua kali, yaitu dengan penyanyi dan bintang pop Madonna pada kurun waktu 1985-1989, dan kemudian dengan aktris Robin Wright pada kurun waktu 1996-2010.


Penulis: Feriawan Hidayat/FER


Sumber:News


6:58 PM | 0 comments | Read More

Charlize Theron dan Sean Penn Dikabarkan Resmi Bertunangan


Sejumlah media di Amerika Serikat melaporkan, aktor Sean Penn baru-baru ini dikabarkan telah mengajukan lamaran untuk bertunangan kepada kekasihnya, aktris cantik asal Afrika Selatan, Charlize Theron, di kota Paris, Perancis.


Mengutip sumber yang dekat dengan pasangan itu, laman Us Weekly menyebutkan, bintang "Walking Dead Man" itu memutuskan meningkatkan hubungan mereka ke tahap berikutnya saat liburan mereka pada bulan November kemarin.


Sean Penn, 54, dan Charlize Theron, 39, diketahui pertama kali mulai muncul secara bersama-sama sebagai pasangan pada bulan Desember 2013.


Penn sendiri telah menikah dua kali, yaitu dengan penyanyi dan bintang pop Madonna pada kurun waktu 1985-1989, dan kemudian dengan aktris Robin Wright pada kurun waktu 1996-2010.


Penulis: Feriawan Hidayat/FER


Sumber:News


6:23 PM | 0 comments | Read More

Perankan Stephen Hawking, Eddie Redmayne Tidak Tidur 9 Bulan

Written By Luthfie fadhillah on Wednesday, December 31, 2014 | 6:58 PM


Jakarta - Nama Eddie Redmayne tengah menjadi topik perbincangan di kalangan dunia pefilman Hollywood lantaran dinilai berhasil memerankan ilmuan Stephen Hawking di film The Theory of Everything. Aktingnya mendapatkan pujian dari para kritikus film dunia. Berkat perannya itu pula, Redmayne yang pernah terlibat dalam film Les Miserables, diganjar masuk nominasi Pemeran Pria Terbaik Penghargaan The Golde Globe.


Di balik kesuksesan memerankan Hawking, Redmayne mengaku mengalami masa sulit selama proses pengambilan gambar film tersebut. Dalam acara The Graham Norton Show, Redmayne bercerita, memerankan tokoh Hawking yang menderita penyakit Sklerosis Lateral Amiotrofik adalah pekerjaan yang sulit.


“Saya tidak tidur selama sembilan bulan,” kata Redmayne.


Sebelum proses pengambilan gambar dilakukan, Redmayne sempat bertemu dengan Hawking. Pertemuan dengan Hawking menjadi pertemuan yang kaku, saat Redmayne mencoba mengatakan kesamaan antara dirinya dengan sang ilmuwan.


Kepada Hawking, Redmyane mengatakan, keduanya sama-sama berzodiak Capricorn. Eddie harus menunggu enam menit untuk mendapatkan respons dari Hawking. Ia pun dikejutkan dengan jawaban Hawking terhadap penyataannya itu. Kata Redmayne, sang ilmuwan hanya menjawab, dirinya adalah seorang astronom bukan astrolog.


Setelah pertemuan itu, Redmayne mendapatkan gambaran tentang sosok Hawking. Tidak berhenti di situ, Redmayne terus melakukan riset tentang Hawking selama empat bulan.


Berkat aktingnya dalam film ini, Redmayne masuk dalam nominasi Aktor Terbaik untuk sejumlah penghargaan. Redmayne pun diperkirakan menjadi aktor yang paling berpotensi untuk membawa pulang Piala Oscar.


Saat disinggung soal kemungkinannya membawa pulang salah satu penghargaan di dunia film, Redmayne menanggapi dengan ramah. Menurut Redmayne, hadiah terbesar dalam memerankan sosok Hawking adalah ketika keluarga sang ilmuwan menonton film tersebut dan memberikan respons positif.


Suara Pembaruan


Penulis: RIZ/NAD


Sumber:Suara Pembaruan


6:58 PM | 0 comments | Read More

Perankan Stephen Hawking, Eddie Redmayne Tidak Tidur 9 Bulan


Jakarta - Nama Eddie Redmayne tengah menjadi topik perbincangan di kalangan dunia pefilman Hollywood lantaran dinilai berhasil memerankan ilmuan Stephen Hawking di film The Theory of Everything. Aktingnya mendapatkan pujian dari para kritikus film dunia. Berkat perannya itu pula, Redmayne yang pernah terlibat dalam film Les Miserables, diganjar masuk nominasi Pemeran Pria Terbaik Penghargaan The Golde Globe.


Di balik kesuksesan memerankan Hawking, Redmayne mengaku mengalami masa sulit selama proses pengambilan gambar film tersebut. Dalam acara The Graham Norton Show, Redmayne bercerita, memerankan tokoh Hawking yang menderita penyakit Sklerosis Lateral Amiotrofik adalah pekerjaan yang sulit.


“Saya tidak tidur selama sembilan bulan,” kata Redmayne.


Sebelum proses pengambilan gambar dilakukan, Redmayne sempat bertemu dengan Hawking. Pertemuan dengan Hawking menjadi pertemuan yang kaku, saat Redmayne mencoba mengatakan kesamaan antara dirinya dengan sang ilmuwan.


Kepada Hawking, Redmyane mengatakan, keduanya sama-sama berzodiak Capricorn. Eddie harus menunggu enam menit untuk mendapatkan respons dari Hawking. Ia pun dikejutkan dengan jawaban Hawking terhadap penyataannya itu. Kata Redmayne, sang ilmuwan hanya menjawab, dirinya adalah seorang astronom bukan astrolog.


Setelah pertemuan itu, Redmayne mendapatkan gambaran tentang sosok Hawking. Tidak berhenti di situ, Redmayne terus melakukan riset tentang Hawking selama empat bulan.


Berkat aktingnya dalam film ini, Redmayne masuk dalam nominasi Aktor Terbaik untuk sejumlah penghargaan. Redmayne pun diperkirakan menjadi aktor yang paling berpotensi untuk membawa pulang Piala Oscar.


Saat disinggung soal kemungkinannya membawa pulang salah satu penghargaan di dunia film, Redmayne menanggapi dengan ramah. Menurut Redmayne, hadiah terbesar dalam memerankan sosok Hawking adalah ketika keluarga sang ilmuwan menonton film tersebut dan memberikan respons positif.


Suara Pembaruan


Penulis: RIZ/NAD


Sumber:Suara Pembaruan


6:23 PM | 0 comments | Read More

Dewan Kesenian Jakarta Gagas Program "Kota yang Tenggelam"

Written By Luthfie fadhillah on Tuesday, December 30, 2014 | 6:58 PM


Jakarta - Fenomena penurunan tanah akibat eksploitasi air tanah yang berlebihan semakin mengkhawatirkan di DKI Jakarta. Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menilai hal ini sebagai salah satu persoalan yang berpengaruh secara luar biasa pada kehidupan warga kota.


Kota Jakarta sendiri disinyalir sebagai salah satu kota di Asia yang sedang berada dalam proses tenggelam. Jika tidak dilakukan langkah-langkah penanggulangan, Jakarta diperkirakan akan tenggelam pada 2030.


Bagi Komite Teater DKJ, kesenian selalu berasal dari kehidupan sehari-hari yang nyata dan sangat dekat dengan pelaku serta penontonnya. Isu penting inilah yang menarik Komite Teater DKJ untuk menggagas program "Kota yang Tenggelam".


Pada tahap pertama program "Kota yang Tenggelam”, DKJ menggandeng Teater Kubur dan Lab Teater Ciputat dalam serangkaian diskusi dan riset lapangan. Menurut Ketua Komite Teater DKJ, Dewi Noviani, riset ini penting karena merupakan bagian tak terpisahkan dalam berkesenian.


Pada tahap yang digelar sejak Oktober sampai Desember 2013 lalu ini, para seniman mendiskusikan masalah tersebut dengan pemerhati masalah perkotaan Marco Kusumawijaya, aktivis Urban Poor Consortium Wardah Hafidz, dan Peneliti AMRTA Institute Irfan Zamzami.


“Bagi Komite Teater DKJ, riset adalah bagian yang tak terpisahkan dari sebuah proses berkesenian,” ungkap Ketua Komite Teater DKJ, Dewi Noviani.


Dilanjutkannya, hasil dari riset dan diskusi tadi akan diwujudkan dalam bentuk pertunjukan teater yang secara partisipatif melibatkan warga.


“Kami ingin dengan pelibatan warga dalam program ini mereka bisa saling mengetahui masalah di sekitarnya dan terbentuk rasa kebersamaan,” lanjut Dewi.


Ada pun rangkaian acara “Kota yang Tenggelam” akan diadakan dan dibagi menjadi dua agenda. Agenda pertama Pentas Pendampingan Masyarakat Kapuk Teko oleh Teater Kubur yang akan diadakan pada Selasa, 30 Desember 2014 di Kapuk Teko RW 01, Kelurahan Kapuk, Cengkareng Jakarta Barat mulai pukul 15.30 WIB.


Agenda kedua adalah Sedekah Sungai oleh Lab Teater Ciputat dan Warga Sangga Buana & Pondok Pinang yang akan diadakan pada Rabu, 31 Desember 2014 di Hutan Kota Sangga Buana-Karang Tengah Lebak Bulus Jakarta Selatan mulai pukul 13.00 WIB.


Penulis: Kharina Triananda/JAS


Sumber:PR


6:58 PM | 0 comments | Read More

Dewan Kesenian Jakarta Gagas Program "Kota yang Tenggelam"


Jakarta - Fenomena penurunan tanah akibat eksploitasi air tanah yang berlebihan semakin mengkhawatirkan di DKI Jakarta. Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menilai hal ini sebagai salah satu persoalan yang berpengaruh secara luar biasa pada kehidupan warga kota.


Kota Jakarta sendiri disinyalir sebagai salah satu kota di Asia yang sedang berada dalam proses tenggelam. Jika tidak dilakukan langkah-langkah penanggulangan, Jakarta diperkirakan akan tenggelam pada 2030.


Bagi Komite Teater DKJ, kesenian selalu berasal dari kehidupan sehari-hari yang nyata dan sangat dekat dengan pelaku serta penontonnya. Isu penting inilah yang menarik Komite Teater DKJ untuk menggagas program "Kota yang Tenggelam".


Pada tahap pertama program "Kota yang Tenggelam”, DKJ menggandeng Teater Kubur dan Lab Teater Ciputat dalam serangkaian diskusi dan riset lapangan. Menurut Ketua Komite Teater DKJ, Dewi Noviani, riset ini penting karena merupakan bagian tak terpisahkan dalam berkesenian.


Pada tahap yang digelar sejak Oktober sampai Desember 2013 lalu ini, para seniman mendiskusikan masalah tersebut dengan pemerhati masalah perkotaan Marco Kusumawijaya, aktivis Urban Poor Consortium Wardah Hafidz, dan Peneliti AMRTA Institute Irfan Zamzami.


“Bagi Komite Teater DKJ, riset adalah bagian yang tak terpisahkan dari sebuah proses berkesenian,” ungkap Ketua Komite Teater DKJ, Dewi Noviani.


Dilanjutkannya, hasil dari riset dan diskusi tadi akan diwujudkan dalam bentuk pertunjukan teater yang secara partisipatif melibatkan warga.


“Kami ingin dengan pelibatan warga dalam program ini mereka bisa saling mengetahui masalah di sekitarnya dan terbentuk rasa kebersamaan,” lanjut Dewi.


Ada pun rangkaian acara “Kota yang Tenggelam” akan diadakan dan dibagi menjadi dua agenda. Agenda pertama Pentas Pendampingan Masyarakat Kapuk Teko oleh Teater Kubur yang akan diadakan pada Selasa, 30 Desember 2014 di Kapuk Teko RW 01, Kelurahan Kapuk, Cengkareng Jakarta Barat mulai pukul 15.30 WIB.


Agenda kedua adalah Sedekah Sungai oleh Lab Teater Ciputat dan Warga Sangga Buana & Pondok Pinang yang akan diadakan pada Rabu, 31 Desember 2014 di Hutan Kota Sangga Buana-Karang Tengah Lebak Bulus Jakarta Selatan mulai pukul 13.00 WIB.


Penulis: Kharina Triananda/JAS


Sumber:PR


6:23 PM | 0 comments | Read More

Lewat "Buka Kado", The Nelwans Suguhkan Musik Indonesia Timur

Written By Luthfie fadhillah on Monday, December 29, 2014 | 6:58 PM


Jakarta - The Nelwans membawakan sebuah konsep baru dalam pertunjukannya di Auditorium Galeri Indonesia Kaya kemarin (28/12), yaitu konsep "buka kado". Kado-kado ini diibaratkan sebagai sebuah kotak musik yang memiliki ceritanya sendiri-sendiri.


Pertunjukan musik interaktif yang bertajuk Musik Indonesia Timur Dalam Kotak Kado, menggabungkan seni budaya Indonesia Timur dengan keceriaan Natal. Pertunjukan ini juga melibatkan penonton untuk berpartisipasi membukakan kado yang berisi dengan musik yang dibawakan oleh The Nelwans dan cerita pendek penuh inspirasi yang dibawakan oleh narator.


Sebanyak 7 buah lagu dibawakan mereka yang diantaranya berjudul Hey You!, Hai Siarkan Di Gunung, Marmut Merah jambu, Maluku Medley, Papua Medley, Nusa Tenggara Medley, dan Aku Sayang Indonesia. Serta mengangkat cerita rakyat Timur seperti Batu Berdaun, dan Legenda Bukit Fafinesu.


"Kami senang sekali dapat tampil di Galeri Indonesia Kaya untuk pertama kalinya. Masih dalam suasana Natal, kami menggunakan konsep buka kado yang biasanya sering dilakukan ketika Natal. Semoga penampilan kami dapat menghibur para penonton baik dari semua golongan, baik tua maupun muda, dalam suka cita Natal dan liburan," ujar Bianca Nelwan, salah satu anggota dari The Nelwans.


The Nelwans (Athina Nelwan, Bianca Nelwan, Christoffer Nelwan) adalah sebuah grup vokal yang terdiri dari tiga bersaudara, Athina dan Bianca adalah saudari kembar dan Chris adalah adik mereka yang paling kecil. The Nelwans mengawali karir mereka dengan mengunggah video-video cover mereka ke situs Youtube. Dari respon yang luar biasa dari para Youtubers, akhirnya mereka merilis single pertama mereka yang berjudul "Hey You" di awal tahun 2013 lalu.


Di bulan April 2014 ini, The Nelwans merilis single terbaru mereka berjudul "Marmut Merah Jambu" yang juga merupakan original soundtrack dari sebuah film karya penulis muda Indonesia, Raditya Dika yang berjudul "Marmut Merah Jambu".



Penulis: Kharina Triananda/FER


Sumber:PR


6:58 PM | 0 comments | Read More

Lewat "Buka Kado", The Nelwans Suguhkan Musik Indonesia Timur


Jakarta - The Nelwans membawakan sebuah konsep baru dalam pertunjukannya di Auditorium Galeri Indonesia Kaya kemarin (28/12), yaitu konsep "buka kado". Kado-kado ini diibaratkan sebagai sebuah kotak musik yang memiliki ceritanya sendiri-sendiri.


Pertunjukan musik interaktif yang bertajuk Musik Indonesia Timur Dalam Kotak Kado, menggabungkan seni budaya Indonesia Timur dengan keceriaan Natal. Pertunjukan ini juga melibatkan penonton untuk berpartisipasi membukakan kado yang berisi dengan musik yang dibawakan oleh The Nelwans dan cerita pendek penuh inspirasi yang dibawakan oleh narator.


Sebanyak 7 buah lagu dibawakan mereka yang diantaranya berjudul Hey You!, Hai Siarkan Di Gunung, Marmut Merah jambu, Maluku Medley, Papua Medley, Nusa Tenggara Medley, dan Aku Sayang Indonesia. Serta mengangkat cerita rakyat Timur seperti Batu Berdaun, dan Legenda Bukit Fafinesu.


"Kami senang sekali dapat tampil di Galeri Indonesia Kaya untuk pertama kalinya. Masih dalam suasana Natal, kami menggunakan konsep buka kado yang biasanya sering dilakukan ketika Natal. Semoga penampilan kami dapat menghibur para penonton baik dari semua golongan, baik tua maupun muda, dalam suka cita Natal dan liburan," ujar Bianca Nelwan, salah satu anggota dari The Nelwans.


The Nelwans (Athina Nelwan, Bianca Nelwan, Christoffer Nelwan) adalah sebuah grup vokal yang terdiri dari tiga bersaudara, Athina dan Bianca adalah saudari kembar dan Chris adalah adik mereka yang paling kecil. The Nelwans mengawali karir mereka dengan mengunggah video-video cover mereka ke situs Youtube. Dari respon yang luar biasa dari para Youtubers, akhirnya mereka merilis single pertama mereka yang berjudul "Hey You" di awal tahun 2013 lalu.


Di bulan April 2014 ini, The Nelwans merilis single terbaru mereka berjudul "Marmut Merah Jambu" yang juga merupakan original soundtrack dari sebuah film karya penulis muda Indonesia, Raditya Dika yang berjudul "Marmut Merah Jambu".



Penulis: Kharina Triananda/FER


Sumber:PR


6:23 PM | 0 comments | Read More

Setelah Maroko, Mesir Larang Penayangan Film Exodus

Written By Luthfie fadhillah on Sunday, December 28, 2014 | 6:58 PM


Kairo - Film kontraversial Exodus kembali mendapat penolakan, setelah Maroko, kini Mesir juga menolak pen film produksi Hollywood itu.


Pemerintah Mesir melarang penayangan film Exodus setelah badan sensor setempat menyebutnya sebagai film dengan ketidakakuratan sejarah.


Kepala badan sensor Mesir mengatakan ketidakakuratan yang dimaksud meliputi adegan kaum Yahudi membangun piramida dan Nabi Musa membelah Laut Merah.


Bangsa Yahudi, menurutnya, tidak ambil bagian dalam proses pembangunan piramida dan gempa yang menyebabkan Laut Merah terbelah, bukan Musa.


Sebelumnya, pelarangan penayangan Exodus sebelumnya telah diberlakukan di Maroko.


Meski Pusat Sinema Maroko (CCM) telah memberikan lampu hijau bagi penayangan film tersebut, situs bisnis Maroko Medias24.com mengatakan pihak berwenang memutuskan melarang film itu sehari sebelum tayang perdana.


Seorang manajer bioskop mengatakan ia telah diperingatkan bioskopnya akan ditutup jika ia menentang larangan tersebut.


Film arahan Ridley Scott itu dibintangi Joel Edgerton sebagai Firaun Ramses dan Christian Bale sebagai Nabi Musa.


Dengan biaya US$ 140 juta, film yang mengisahkan pembebasan bangsa Yahudi dari perbudakan di Mesir itu meraup US$ 24,5 juta pada pekan perdana setelah dirilis.


Meski demikian, jika dibandingkan dengan film bertema keagamaan lainnya, pendapatan Exodus terbilang kecil.


Penulis: Firman Qusnulyakin/FQ


Sumber:BBC


6:58 PM | 0 comments | Read More

Setelah Maroko, Mesir Larang Penayangan Film Exodus


Kairo - Film kontraversial Exodus kembali mendapat penolakan, setelah Maroko, kini Mesir juga menolak pen film produksi Hollywood itu.


Pemerintah Mesir melarang penayangan film Exodus setelah badan sensor setempat menyebutnya sebagai film dengan ketidakakuratan sejarah.


Kepala badan sensor Mesir mengatakan ketidakakuratan yang dimaksud meliputi adegan kaum Yahudi membangun piramida dan Nabi Musa membelah Laut Merah.


Bangsa Yahudi, menurutnya, tidak ambil bagian dalam proses pembangunan piramida dan gempa yang menyebabkan Laut Merah terbelah, bukan Musa.


Sebelumnya, pelarangan penayangan Exodus sebelumnya telah diberlakukan di Maroko.


Meski Pusat Sinema Maroko (CCM) telah memberikan lampu hijau bagi penayangan film tersebut, situs bisnis Maroko Medias24.com mengatakan pihak berwenang memutuskan melarang film itu sehari sebelum tayang perdana.


Seorang manajer bioskop mengatakan ia telah diperingatkan bioskopnya akan ditutup jika ia menentang larangan tersebut.


Film arahan Ridley Scott itu dibintangi Joel Edgerton sebagai Firaun Ramses dan Christian Bale sebagai Nabi Musa.


Dengan biaya US$ 140 juta, film yang mengisahkan pembebasan bangsa Yahudi dari perbudakan di Mesir itu meraup US$ 24,5 juta pada pekan perdana setelah dirilis.


Meski demikian, jika dibandingkan dengan film bertema keagamaan lainnya, pendapatan Exodus terbilang kecil.


Penulis: Firman Qusnulyakin/FQ


Sumber:BBC


6:23 PM | 0 comments | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger