Powered by Blogger.

Popular Posts Today

Alasan Riyanni Djangkaru Jagokan Timnas Brasil di Piala Dunia

Written By Luthfie fadhillah on Thursday, June 12, 2014 | 6:23 PM


Sukabumi - Menjelang Piala Dunia, artis dan presenter Riyanni Djangkaru bersiap menjagokan Tim Nasional (Timnas) Brasil yang juga merupakan tuan rumah Piala Dunia kali ini. Alasannya, karena sang anak, Brahman Ahmad Syailendra (7), memaksanya.


"Alasan saya sebagai ibu-ibu, ya karena anak saya yang minta. Bahkan kami sudah beli baju seragam Timnas Brasil," ujar Riyanni di Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (11/6).


Ia juga mengatakan, di rumahnya ada tradisi dengan sang anak untuk nonton pertandingan sepak bola bersama di rumah.


"Kalau ada partai yang ia suka biasanya saya rekam, karena ditayangnya malam jadi saya larang. Makanya, saya rekam dan kami tonton keesokan harinya sambil mengajak teman-temannya. Bikin popcorn dan camilan lain sambil mengenakan seragam pesepak bola," katanya.


Menurutnya, Piala Dunia yang bertepatan dengan liburan sekolah ini sangat menguntungkan baginya. Karena saat liburan kadang bingung mau ajak anak-anak ke mana karena tiket mahal dan waktu terbatas.


"Nonton bola beramai-ramai bisa menjadi alternatif seru," imbuh presenter yang dikenal melalui program televisi "Jejak Petualang" ini.


6:23 PM | 0 comments | Read More

Band Tertua di Dunia Akan Tampil di Rotterdam

Written By Luthfie fadhillah on Wednesday, June 11, 2014 | 6:23 PM


Shanghai – Grup musik tertua di dunia, Peace Old Jazz Band, akan tampil di North Sea Jazz Festival, di Rotterdam, Belanda, 11-13 Juli mendatang.


Seperti dikutip Aljazeera, Selasa (10/6), meskipun usia para personel sudah tua, berkisar 65 hingga 87 tahun, namun semangat grup musik asal Shanghai, Tiongkok itu untuk manggung tetap tinggi.


Sutradara asal Jerman, Uli Gaulke secara khusus merekam perjalanan band itu menuju Belanda. Rencananya, rekaman itu akan dijadikan sebuah film dokumenter dan ditayangkan di dunia maya sebagai upaya untuk penggalangan dana bagi Peace Old Jazz Band.


Para personel Peace Old Jazz Band sudah manggung sejak tahun 1940-an. Namun, mereka baru membentuk grup band itu sejak 1980. Sejak itulah, mereka tiap malam manggung di Peace Hotel di Shanghai dan di berbagai tempat. Bahkan, band ini sudah keliling dunia.


Mereka juga tetap manggung pada masa pendudukan Jepang di Tiongkok, termasuk saat masa-masa sulit revolusi budaya di negeri tirai bambu itu. Mereka juga sempat mendapat ancaman dari pemerintah yang melarang masuknya budaya barat. Namun, personel Peace Old Jazz Band tetap bertahan dan memiliki keyakinan penuh pada musik yang mereka cintai.


6:23 PM | 0 comments | Read More

Marshanda: Saya Sudah Tak Sanggup Jalani Pernikahan dengan Ben Kasyafani

Written By Luthfie fadhillah on Tuesday, June 10, 2014 | 6:58 PM


Jakarta - Kekecewaan pesinetron Marshanda terkait curhat Ben Kasyafani melalui media Path dirasakan sangat mendalam. Bahkan Chaca, panggilan akrab Marshanda, mengaku sudah tak sanggup lagi menjalani pernikahan dengan Ben Kasyafani.


Hal itu diungkapkan Marshanda saat menggelar jumpa pers di hotel Sofyan, di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Senin (9/6) malam.


"Saya sudah tidak sanggup menjalankan dan saya punya alasan yang kuat untuk itu. Saya belum bisa buka alasannya," ungkap Marshanda.


Lebih lanjut diungkapkan wanita berusia 24 tahun itu, pasca dirinya mendaftarkan gugatannya ke PA Jakarta Pusat, hubungan keduanya semakin memburuk, terlebih kini keduanya berseteru masalah pembagian hak asuh anak.


"Saya hanya berharap Ben mengerti bahwa saya mesti bersama-sama dengan Sienna, apapun risikonya," lanjutnya.


Diutarakan wanita berhijab ini, sikap yang diambilnya ini sebagai upaya dirinya melindungi sang buah hati yang kini tengah tumbuh berkembang.


"Saya masih menunjukkan sikap terhadap Ben, dengan apa yang terjadi dan apa yang saya alami, tapi tindakan yang saya lakukan untuk menjaga Sienna itu yang paling tepat. Saat ini Sienna tengah tumbuh, jadi saya takut ini bisa mempengaruhi tumbuh kembangnya kelak," tutupnya.


6:58 PM | 0 comments | Read More

Marshanda: Saya Sudah Tak Sanggup Jalani Pernikahan dengan Ben Kasyafani


Jakarta - Kekecewaan pesinetron Marshanda terkait curhat Ben Kasyafani melalui media Path dirasakan sangat mendalam. Bahkan Chaca, panggilan akrab Marshanda, mengaku sudah tak sanggup lagi menjalani pernikahan dengan Ben Kasyafani.


Hal itu diungkapkan Marshanda saat menggelar jumpa pers di hotel Sofyan, di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Senin (9/6) malam.


"Saya sudah tidak sanggup menjalankan dan saya punya alasan yang kuat untuk itu. Saya belum bisa buka alasannya," ungkap Marshanda.


Lebih lanjut diungkapkan wanita berusia 24 tahun itu, pasca dirinya mendaftarkan gugatannya ke PA Jakarta Pusat, hubungan keduanya semakin memburuk, terlebih kini keduanya berseteru masalah pembagian hak asuh anak.


"Saya hanya berharap Ben mengerti bahwa saya mesti bersama-sama dengan Sienna, apapun risikonya," lanjutnya.


Diutarakan wanita berhijab ini, sikap yang diambilnya ini sebagai upaya dirinya melindungi sang buah hati yang kini tengah tumbuh berkembang.


"Saya masih menunjukkan sikap terhadap Ben, dengan apa yang terjadi dan apa yang saya alami, tapi tindakan yang saya lakukan untuk menjaga Sienna itu yang paling tepat. Saat ini Sienna tengah tumbuh, jadi saya takut ini bisa mempengaruhi tumbuh kembangnya kelak," tutupnya.


6:23 PM | 0 comments | Read More

Kemparekraf Gelar Lomba Cipta Lagu Anak 2014

Written By Luthfie fadhillah on Monday, June 9, 2014 | 6:58 PM


Jakarta - Untuk mendorong lebih banyak terciptanya lagu anak berkualitas, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemparekraf) kembali menggelar lomba cipta dan festival lagu anak 2014.


Direktur Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasiskan Seni dan Budaya Kemenparekraf Prof Dr Ahman Sya, mengatakan, kegiatan itu merupakan yang kedua kalinya, setelah tahun lalu berhasil mencetak 10 lagu anak-anak pilihan yang diciptakan para musisi dari berbagai daerah di Tanah Air.


"Melalui lomba cipta lagu ini kami berharap akan tercipta banyak lagu anak-anak yang berkualitas sekaligus mendorong para pencipta lagu sering menciptakan lagu anak yang bermutu," katanya di Jakarta, Senin (9/6).


Pihaknya juga menginginkan lomba dan festival itu bisa menjadi salah satu upaya untuk memproduksi lagu anak dalam bentuk pertunjukan dan rekaman, kemudian meningkatan apresiasi masyarakat terhadap lagu anak.


Pada kesempatan yang sama Direktur Pengembangan Seni Pertunjukan dan Industri Musik Kemenparekraf Juju Masunah mengatakan tema pelaksanaan lomba cipta dan festival lagu anak tahun ini adalah "Irama Negeriku".


"Lagu yang diciptakan harus disesuaikan dengan kategori usia anak-anak yang akan menyanyikannya, yakni anak usia 3-6 tahun, 7-10 tahun, dan 10-13 tahun," katanya.


Masyarakat umum bisa mengikuti lomba ini dengan syarat peserta harus melampirkan KTP/tanda identitas, melampirkan surat bahwa lagu yang diikutkan lomba adalah asli karya sendiri, melampirkan surat bersedia lagunya dipublikasikan, dan lagu yang diikutkan lomba tidak sedang mengikuti lomba serupa di tempat lain.


Lagu dibuat dalam bahasa Indonesia yang benar, harus mengandung unsur budaya lokal, dan tidak berbau SARA.


"Kami juga menetapkan 10 subtema yang dapat dipilih para peserta yakni Tanah Airku, Budaya Bangsaku, Cinta Negeriku, Bhinneka Bangsaku, Indahnya Kebersamaan, Teknologi Bangsaku, Cita Cita untuk Negeriku, Hidup Rukun dan Damai, Malu Berbohong, kemudan Disiplin dan Tertib," kata Juju Masunah.


Karya bisa dikirimkan dalam bentuk syair yang diketik rapi di kertas ukuran A4, tulisan tema lagu di ujung kiri, dan kategori usia anak di ujung kanan amplop.


Naskah dikirim lengkap dengan biodata peserta ke Direktorat Pengembangan Seni Pertunjukan dan Industri Musik, Direktorat Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasiskan Seni dan Budaya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Gedung Film Lantai 5, Jl MT Haryono Kav 47-48, Jakarta Selatan 12770, Tlp 021 79170572, melalui Sarjono (087878845603) atau Reni Rahmawati (081381769910) dengan pendaftaran sampai 30 Juni 2014.


Juju Masunah menambahkan dari lomba tersebut Kemenparekraf akan menyeleksi 10 lagu anak anak terbaik dan mendapatkan hadiah total Rp20 juta ditambah penghargaan dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.


Festival Lagu Bersamaan dengan pelaksaaan Lomba Cipta Lagu anak itu, digelar juga Festival Lagu Anak-Anak (Lomba Menyanyi Solo).


"Peserta adalah anak-anak usia 3-6 tahun, 7-9 tahun, dan 10-12 tahun," katanya.


Ada 10 lagu yang disediakan untuk dinyanyikan para peserta Lomba Menyanyi Tunggal itu, yakni lagu Buka Lembaran Hari ciptaan Steve Handoyo, lagu Sahabat Pena ciptan Rahardian Chandra, lagu Yuk Cari Tahu ciptaan Dwiyanti Febriana, lagu Chiko ciptaan Rusli Ridwan, dan lagu Hutan ciptaan Topik.


Selain itu lagu Mari Berolahraga ciptaan Nursanti Riandini, lagu Sekolah ciptaan Kirno, lagu Tebak Cita Cita ciptaan Aldi Nada Permana, lagu Jagalah Kebersihan Lingkungan ciptaan Aditya Raharja, dan lagu Sambut Pagi ciptaan Fajar Ahadi.


"Sepuluh lagu yang akan dinyanyikan para peserta lomba menyanyi solo adaah lagu hasil seleksi lomba cipta lagu anak tahun 2013," kata Juju Masunah.


Peserta menyanyi Lagu Solo bisa mengirimkan keikutsertaannya dalam bentuk rekaman video dan dikirim ke panitia melalui email industrimusikpspim@gmail.com atau upload ke youtube dengan mengirimkan judul, nama penyanyi beserta link youtubenya ke panitia, selambatnya 30 Juni 2014.


Tim juri selanjutnya akan menyeleksi 15 penyanyi dan dari jumlah itu akan diseleksi lagi hanya 3 yang terbaik dengan hadiah juara 1 Rp10 juta, juara 2 Rp7,5 juta, dan juara 3 Rp 5juta ditambah piagam penghargaan dari Menparekraf.


"Tiga penyanyi terbaik akan ditampilkan dalam penringatan Hari Anak Nasional pada 23 Juli 2014," katanya.


6:58 PM | 0 comments | Read More

Kemparekraf Gelar Lomba Cipta Lagu Anak 2014


Jakarta - Untuk mendorong lebih banyak terciptanya lagu anak berkualitas, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemparekraf) kembali menggelar lomba cipta dan festival lagu anak 2014.


Direktur Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasiskan Seni dan Budaya Kemenparekraf Prof Dr Ahman Sya, mengatakan, kegiatan itu merupakan yang kedua kalinya, setelah tahun lalu berhasil mencetak 10 lagu anak-anak pilihan yang diciptakan para musisi dari berbagai daerah di Tanah Air.


"Melalui lomba cipta lagu ini kami berharap akan tercipta banyak lagu anak-anak yang berkualitas sekaligus mendorong para pencipta lagu sering menciptakan lagu anak yang bermutu," katanya di Jakarta, Senin (9/6).


Pihaknya juga menginginkan lomba dan festival itu bisa menjadi salah satu upaya untuk memproduksi lagu anak dalam bentuk pertunjukan dan rekaman, kemudian meningkatan apresiasi masyarakat terhadap lagu anak.


Pada kesempatan yang sama Direktur Pengembangan Seni Pertunjukan dan Industri Musik Kemenparekraf Juju Masunah mengatakan tema pelaksanaan lomba cipta dan festival lagu anak tahun ini adalah "Irama Negeriku".


"Lagu yang diciptakan harus disesuaikan dengan kategori usia anak-anak yang akan menyanyikannya, yakni anak usia 3-6 tahun, 7-10 tahun, dan 10-13 tahun," katanya.


Masyarakat umum bisa mengikuti lomba ini dengan syarat peserta harus melampirkan KTP/tanda identitas, melampirkan surat bahwa lagu yang diikutkan lomba adalah asli karya sendiri, melampirkan surat bersedia lagunya dipublikasikan, dan lagu yang diikutkan lomba tidak sedang mengikuti lomba serupa di tempat lain.


Lagu dibuat dalam bahasa Indonesia yang benar, harus mengandung unsur budaya lokal, dan tidak berbau SARA.


"Kami juga menetapkan 10 subtema yang dapat dipilih para peserta yakni Tanah Airku, Budaya Bangsaku, Cinta Negeriku, Bhinneka Bangsaku, Indahnya Kebersamaan, Teknologi Bangsaku, Cita Cita untuk Negeriku, Hidup Rukun dan Damai, Malu Berbohong, kemudan Disiplin dan Tertib," kata Juju Masunah.


Karya bisa dikirimkan dalam bentuk syair yang diketik rapi di kertas ukuran A4, tulisan tema lagu di ujung kiri, dan kategori usia anak di ujung kanan amplop.


Naskah dikirim lengkap dengan biodata peserta ke Direktorat Pengembangan Seni Pertunjukan dan Industri Musik, Direktorat Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasiskan Seni dan Budaya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Gedung Film Lantai 5, Jl MT Haryono Kav 47-48, Jakarta Selatan 12770, Tlp 021 79170572, melalui Sarjono (087878845603) atau Reni Rahmawati (081381769910) dengan pendaftaran sampai 30 Juni 2014.


Juju Masunah menambahkan dari lomba tersebut Kemenparekraf akan menyeleksi 10 lagu anak anak terbaik dan mendapatkan hadiah total Rp20 juta ditambah penghargaan dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.


Festival Lagu Bersamaan dengan pelaksaaan Lomba Cipta Lagu anak itu, digelar juga Festival Lagu Anak-Anak (Lomba Menyanyi Solo).


"Peserta adalah anak-anak usia 3-6 tahun, 7-9 tahun, dan 10-12 tahun," katanya.


Ada 10 lagu yang disediakan untuk dinyanyikan para peserta Lomba Menyanyi Tunggal itu, yakni lagu Buka Lembaran Hari ciptaan Steve Handoyo, lagu Sahabat Pena ciptan Rahardian Chandra, lagu Yuk Cari Tahu ciptaan Dwiyanti Febriana, lagu Chiko ciptaan Rusli Ridwan, dan lagu Hutan ciptaan Topik.


Selain itu lagu Mari Berolahraga ciptaan Nursanti Riandini, lagu Sekolah ciptaan Kirno, lagu Tebak Cita Cita ciptaan Aldi Nada Permana, lagu Jagalah Kebersihan Lingkungan ciptaan Aditya Raharja, dan lagu Sambut Pagi ciptaan Fajar Ahadi.


"Sepuluh lagu yang akan dinyanyikan para peserta lomba menyanyi solo adaah lagu hasil seleksi lomba cipta lagu anak tahun 2013," kata Juju Masunah.


Peserta menyanyi Lagu Solo bisa mengirimkan keikutsertaannya dalam bentuk rekaman video dan dikirim ke panitia melalui email industrimusikpspim@gmail.com atau upload ke youtube dengan mengirimkan judul, nama penyanyi beserta link youtubenya ke panitia, selambatnya 30 Juni 2014.


Tim juri selanjutnya akan menyeleksi 15 penyanyi dan dari jumlah itu akan diseleksi lagi hanya 3 yang terbaik dengan hadiah juara 1 Rp10 juta, juara 2 Rp7,5 juta, dan juara 3 Rp 5juta ditambah piagam penghargaan dari Menparekraf.


"Tiga penyanyi terbaik akan ditampilkan dalam penringatan Hari Anak Nasional pada 23 Juli 2014," katanya.


6:23 PM | 0 comments | Read More

Lego-lego, Tari Adat Alor Bermakna Persatuan

Written By Luthfie fadhillah on Sunday, June 8, 2014 | 6:58 PM


Alor - Tarian adat adalah salah satu kekayaan budaya yang disampaikan secara turun-temurun dari nenek moyang. Tarian adat kerap memiliki pesan-pesan dan makna yang luhur. Salah satunya ada pada tari Lego-lego dari Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tarian ini ditujukan untuk mengajak masyarakatnya bersatu membangun kampung dan negeri.


“Tari lego-lego biasa digunakan dalam segala kegiatan upacara adat di Alor. Namun, sekarang lebih banyak digunakan saat menyambut tamu, dalam acara pernikahan, dan sebagainya,” jelas Kepala Urusan Pemerintah Desa Pura Selatan Green Kristofel Tonunglalang, kepada Beritasatu.com di Dusun Retta, Alor, NTT, baru-baru ini.


Kabupaten Alor memiliki 12 rumpun suku yang tersebar di wilayah dengan 15 pulau itu. Menurut Kristofel, dari area Alor, ada beberapa rumpun yang tergabung dengan pola 7-3-10, yakni tujuh suku di Pulau Pantar, tiga suku di kawasan Pura, dan 10 suku di area yang pada peta berbentuk kepala burung. Diperkirakan ada lebih dari 50 jenis bahasa di Kabupaten Alor, berbeda di setiap wilayah kecil, namun mayoritas bisa berbahasa Indonesia.


Pada masing-masing kawasan tersebut ada gaya tari dan nyanyian yang berbeda-beda, namun formasinya tetap sama, yakni lingkaran. Masing-masing nyanyian dan pantun yang diungkapkan saat menari, memiliki arti serta harapan yang berbeda-beda. Meski ada beberapa literatur yang mengatakan, tarian ini sempat menjadi tari perang. “Sekarang lebih banyak digunakan pada acara adat. Tujuan pelaksanaan tari ini tetap sama, yakni mengembangkan budaya Alor (sebagai identitas masyarakatnya),” kata Green.


Green mencontohkan, di Dusun Malal, lagu khasnya berjudul “Boling Pati” berisi harapan kesembuhan dan kesehatan. Sementara di Dusun Retta, lagu khasnya berjudul "Ringgi Eamanang", berisi cerita permohonan untuk kemakmuran sekaligus menjaga kekayaan alam.


Saat berkunjung ke Dusun Retta, yang terletak di Pulau Pura Selatan, Beritasatu.com sempat disambut dengan tarian Lego-lego oleh masyarakat setempat. Ini adalah sebuah hal yang sering dilakukan setiap kali ada tamu. Menurut penduduk kota, masyarakat di dusun atau desa di Alor sangat senang bila dikunjungi. Tarian ini adalah ungkapan rasa bahagia itu.


Tamu akan disambut oleh masyarakat yang dituakan dengan salam tempel hidung, lalu diajak menuju sebuah pohon besar yang rindang, dengan beberapa warga perempuan yang berpegangan tangan mengelilingi pohon serta mazbah (awam dibaca mezbah) yang ada di bawah pohon tersebut. Tamu dipersilakan untuk ikut serta dalam tarian tersebut. Dengan gerakan kaki yang dikoreografikan, penari akan bergerak mengitari pohon. Sambil sirih pinang dan sopi ditawarkan. Gerakan kaki dan nyanyian di masing-masing daerah bisa saja berbeda, namun bentuk formasi lingkaran dan komponen tradisional lainnya tetap sama.


Di dalam lingkaran, ada tiga lelaki yang memiliki tugas berbeda. Ada pemukul gong yang nadanya akan digunakan untuk menghitung langkah penari, kemudian ada seorang lelaki yang bernyanyi sekaligus mengucapkan pantun, dan seorang lagi bertugas membagikan sirih pinang serta minuman sopi.


Sirih pinang dan sopi yang dibagikan berasal dari satu tempat yang sama. Hal ini pun punya makna. “Tarian dilakukan dengan bergandengan tangan. Sirih pinang yang ditempatkan dalam satu wadah akan diedarkan. Minuman juga berasal dari satu gelas yang sama. Ini punya arti, semua bersama-sama bergandengan tangan membangun kampung dan negeri. Bila ada masalah, apa pun yang terjadi, kita semua telah bersatu, tidak akan tercerai-berai,” kata Green.


Para perempuan dan lelaki setempat yang terlibat dalam tarian ini mengenakan kain tradisional. Bernyanyi dan berpantun dilakukan oleh orang-orang yang sudah terbiasa. Jadi biasanya dilakukan oleh orang tua-tua. Menurut Green, saat ini anak-anak setempat sudah terbiasa melihat tarian ini, dan kadang sering dilombakan pula di tingkat usia-usia tertentu. Selain menjadi identitas masing-masing suku, tarian ini menjadi salah satu identitas pemersatu masyarakat Alor yang punya mimpi agar masyarakat dan pendatang terus bersatu membangun kampung, serta negeri.


6:58 PM | 0 comments | Read More

Lego-lego, Tari Adat Alor Bermakna Persatuan


Alor - Tarian adat adalah salah satu kekayaan budaya yang disampaikan secara turun-temurun dari nenek moyang. Tarian adat kerap memiliki pesan-pesan dan makna yang luhur. Salah satunya ada pada tari Lego-lego dari Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tarian ini ditujukan untuk mengajak masyarakatnya bersatu membangun kampung dan negeri.


“Tari lego-lego biasa digunakan dalam segala kegiatan upacara adat di Alor. Namun, sekarang lebih banyak digunakan saat menyambut tamu, dalam acara pernikahan, dan sebagainya,” jelas Kepala Urusan Pemerintah Desa Pura Selatan Green Kristofel Tonunglalang, kepada Beritasatu.com di Dusun Retta, Alor, NTT, baru-baru ini.


Kabupaten Alor memiliki 12 rumpun suku yang tersebar di wilayah dengan 15 pulau itu. Menurut Kristofel, dari area Alor, ada beberapa rumpun yang tergabung dengan pola 7-3-10, yakni tujuh suku di Pulau Pantar, tiga suku di kawasan Pura, dan 10 suku di area yang pada peta berbentuk kepala burung. Diperkirakan ada lebih dari 50 jenis bahasa di Kabupaten Alor, berbeda di setiap wilayah kecil, namun mayoritas bisa berbahasa Indonesia.


Pada masing-masing kawasan tersebut ada gaya tari dan nyanyian yang berbeda-beda, namun formasinya tetap sama, yakni lingkaran. Masing-masing nyanyian dan pantun yang diungkapkan saat menari, memiliki arti serta harapan yang berbeda-beda. Meski ada beberapa literatur yang mengatakan, tarian ini sempat menjadi tari perang. “Sekarang lebih banyak digunakan pada acara adat. Tujuan pelaksanaan tari ini tetap sama, yakni mengembangkan budaya Alor (sebagai identitas masyarakatnya),” kata Green.


Green mencontohkan, di Dusun Malal, lagu khasnya berjudul “Boling Pati” berisi harapan kesembuhan dan kesehatan. Sementara di Dusun Retta, lagu khasnya berjudul "Ringgi Eamanang", berisi cerita permohonan untuk kemakmuran sekaligus menjaga kekayaan alam.


Saat berkunjung ke Dusun Retta, yang terletak di Pulau Pura Selatan, Beritasatu.com sempat disambut dengan tarian Lego-lego oleh masyarakat setempat. Ini adalah sebuah hal yang sering dilakukan setiap kali ada tamu. Menurut penduduk kota, masyarakat di dusun atau desa di Alor sangat senang bila dikunjungi. Tarian ini adalah ungkapan rasa bahagia itu.


Tamu akan disambut oleh masyarakat yang dituakan dengan salam tempel hidung, lalu diajak menuju sebuah pohon besar yang rindang, dengan beberapa warga perempuan yang berpegangan tangan mengelilingi pohon serta mazbah (awam dibaca mezbah) yang ada di bawah pohon tersebut. Tamu dipersilakan untuk ikut serta dalam tarian tersebut. Dengan gerakan kaki yang dikoreografikan, penari akan bergerak mengitari pohon. Sambil sirih pinang dan sopi ditawarkan. Gerakan kaki dan nyanyian di masing-masing daerah bisa saja berbeda, namun bentuk formasi lingkaran dan komponen tradisional lainnya tetap sama.


Di dalam lingkaran, ada tiga lelaki yang memiliki tugas berbeda. Ada pemukul gong yang nadanya akan digunakan untuk menghitung langkah penari, kemudian ada seorang lelaki yang bernyanyi sekaligus mengucapkan pantun, dan seorang lagi bertugas membagikan sirih pinang serta minuman sopi.


Sirih pinang dan sopi yang dibagikan berasal dari satu tempat yang sama. Hal ini pun punya makna. “Tarian dilakukan dengan bergandengan tangan. Sirih pinang yang ditempatkan dalam satu wadah akan diedarkan. Minuman juga berasal dari satu gelas yang sama. Ini punya arti, semua bersama-sama bergandengan tangan membangun kampung dan negeri. Bila ada masalah, apa pun yang terjadi, kita semua telah bersatu, tidak akan tercerai-berai,” kata Green.


Para perempuan dan lelaki setempat yang terlibat dalam tarian ini mengenakan kain tradisional. Bernyanyi dan berpantun dilakukan oleh orang-orang yang sudah terbiasa. Jadi biasanya dilakukan oleh orang tua-tua. Menurut Green, saat ini anak-anak setempat sudah terbiasa melihat tarian ini, dan kadang sering dilombakan pula di tingkat usia-usia tertentu. Selain menjadi identitas masing-masing suku, tarian ini menjadi salah satu identitas pemersatu masyarakat Alor yang punya mimpi agar masyarakat dan pendatang terus bersatu membangun kampung, serta negeri.


6:23 PM | 0 comments | Read More

Pesinetron Nadia Ayesha Pilih Pemimpin yang Jelas Kerjanya

Written By Luthfie fadhillah on Saturday, June 7, 2014 | 6:58 PM


Jakarta - Mana figur pemimpin yang lebih menarik bagi anak-anak muda masa kini, yang tegas atau yang banyak bekerja? Artis dan pesinetron yang sedang naik daun, Nadia Ayesha, menyatakan Indonesia membutuhkan calon pemimpin yang tak banyak janji, tapi sudah jelas menunjukkan kerjanya seperti Joko Widodo (Jokowi).


"Kita tak butuh yang tegas dan otoriter. Tapi kita butuh sosok yang terjun langsung ke masyarakat dengan rendah hati untuk tahu apa keinginan rakyat, dan kemudian melaksanakannya melalui program pemerintah," kata Nadia di sela-sela rapat koordinasi relawan Kawan Jokowi, di Jakarta, Sabtu (7/6).


Dari situ, putri pasangan musisi Ekki Soekarno dan artis Soraya Haque itu, menyatakan dirinya meyakini figur demikian ada pada diri calon presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) yang berpasangan dengan Jusuf Kalla (JK). Pasangan dengan nomor urut 2 itu diyakininya akan memenuhi ekspektasi masyarakat Indonesia akan sosok pemimpin negara yang bertipe pekerja dan menyayangi.


Perempauan bernama lengkap Nadia Ayesha Mieke Soekarno itu menilai Jokowi adalah tipe pemimpin yang berbeda dengan elite negeri kebanyakan. Kalau yang biasa hanya pintar bicara janji dan visi misi tetapi sulit mewujudkannya bila terpilih, maka Jokowi adalah kebalikannya.


"Kalau Jokowi, lebih kepada dia tak banyak bicara, entah namanya visi-misi, tapi dia langsung bekerja. Pak Jokowi bisa menunjukkan secara langsung bukti kerjanya tanpa perlu janji-janji," kata Nadia yang pernah bermain di sinetron Akibat Pernikahan Dini itu.


Gadis yang memulai kariernya di pemilihan Gadis Sampul 2009 itu melanjukan Jokowi sudah menunjukkan kinerjanya sebagai walikota di Solo serta gubernur di DKI Jakarta. Kinerja Jokowi, menurut dia, amat kontras dengan kompetitornya di pilpres.


Di Jakarta, walau belum sempurna, Nadia benar-benar merasakan kerja Pemprov DKI Jakarta di bawah Jokowi untuk mencegah dan mengurangi banjir dan kemacetan. Selain itu, Jokowi juga merengkuh seluruh lapisan masyarakat melalui program Kartu Jakarta Pintar (KJP) dan Kartu Jakarta Sehat (KJS).


"Dia (Jokowi) tahu apa yang diinginkan rakyat. Menurut saya Indonesia akan lebih baik dengan Jokowi," kata gadis ayu yang kuliah di London School Jakarta itu.


Nadia meyakini bahwa di pilpres kali ini, anak-anak muda takkan lagi golput. Selama ini, banyak yang golput karena tak mengenal siapa calon pemimpinnya. Namun di Pilpres 2014, Artis Kelahiran Jakarta 9 Desember 1994 itu menilai calon presiden RI Joko Widodo (Jokowi) telah membuat perbedaan dan sangat menarik perhatian.


"Sayapun akan aktif mengajak anak-anak muda di sekitarku untuk tak golput dan memilih Jokowi," tukas pesinetron ABG Jadi Manten itu sambil tersenyum.


6:58 PM | 0 comments | Read More

Pesinetron Nadia Ayesha Pilih Pemimpin yang Jelas Kerjanya


Jakarta - Mana figur pemimpin yang lebih menarik bagi anak-anak muda masa kini, yang tegas atau yang banyak bekerja? Artis dan pesinetron yang sedang naik daun, Nadia Ayesha, menyatakan Indonesia membutuhkan calon pemimpin yang tak banyak janji, tapi sudah jelas menunjukkan kerjanya seperti Joko Widodo (Jokowi).


"Kita tak butuh yang tegas dan otoriter. Tapi kita butuh sosok yang terjun langsung ke masyarakat dengan rendah hati untuk tahu apa keinginan rakyat, dan kemudian melaksanakannya melalui program pemerintah," kata Nadia di sela-sela rapat koordinasi relawan Kawan Jokowi, di Jakarta, Sabtu (7/6).


Dari situ, putri pasangan musisi Ekki Soekarno dan artis Soraya Haque itu, menyatakan dirinya meyakini figur demikian ada pada diri calon presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) yang berpasangan dengan Jusuf Kalla (JK). Pasangan dengan nomor urut 2 itu diyakininya akan memenuhi ekspektasi masyarakat Indonesia akan sosok pemimpin negara yang bertipe pekerja dan menyayangi.


Perempauan bernama lengkap Nadia Ayesha Mieke Soekarno itu menilai Jokowi adalah tipe pemimpin yang berbeda dengan elite negeri kebanyakan. Kalau yang biasa hanya pintar bicara janji dan visi misi tetapi sulit mewujudkannya bila terpilih, maka Jokowi adalah kebalikannya.


"Kalau Jokowi, lebih kepada dia tak banyak bicara, entah namanya visi-misi, tapi dia langsung bekerja. Pak Jokowi bisa menunjukkan secara langsung bukti kerjanya tanpa perlu janji-janji," kata Nadia yang pernah bermain di sinetron Akibat Pernikahan Dini itu.


Gadis yang memulai kariernya di pemilihan Gadis Sampul 2009 itu melanjukan Jokowi sudah menunjukkan kinerjanya sebagai walikota di Solo serta gubernur di DKI Jakarta. Kinerja Jokowi, menurut dia, amat kontras dengan kompetitornya di pilpres.


Di Jakarta, walau belum sempurna, Nadia benar-benar merasakan kerja Pemprov DKI Jakarta di bawah Jokowi untuk mencegah dan mengurangi banjir dan kemacetan. Selain itu, Jokowi juga merengkuh seluruh lapisan masyarakat melalui program Kartu Jakarta Pintar (KJP) dan Kartu Jakarta Sehat (KJS).


"Dia (Jokowi) tahu apa yang diinginkan rakyat. Menurut saya Indonesia akan lebih baik dengan Jokowi," kata gadis ayu yang kuliah di London School Jakarta itu.


Nadia meyakini bahwa di pilpres kali ini, anak-anak muda takkan lagi golput. Selama ini, banyak yang golput karena tak mengenal siapa calon pemimpinnya. Namun di Pilpres 2014, Artis Kelahiran Jakarta 9 Desember 1994 itu menilai calon presiden RI Joko Widodo (Jokowi) telah membuat perbedaan dan sangat menarik perhatian.


"Sayapun akan aktif mengajak anak-anak muda di sekitarku untuk tak golput dan memilih Jokowi," tukas pesinetron ABG Jadi Manten itu sambil tersenyum.


6:23 PM | 0 comments | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger